Fish

Jumat, 24 Desember 2010

Pendekatan Konstruktivis pada Pembelajaran Sifat dan Perubahan Wujud Benda di Kelas IV SD

A. Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar
1. Pengertian Pembelajaran
Kerangka konseptual dari pembelajaran akan menggambarkan bagaimana prosedur yang sistematis dapat mengorganisasikan pengalaman belajar bagi para siswa sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri. Fungsi pembelajaran dapat dikatakan sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar. Selain itu diperlukan suatu strategi dari kerangka konseptual pembelajaran yang lebih menekankan pada penerapannya di kelas sehingga model-model pembelajaran dapat digunakan sebagai acuan pada kegiatan perancangan kegiatan yang sistematik dalam mengkomunikasikan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Pembelajaran berangkat dari kata belajar. Menurut Hamalik (2001:27), “belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman”. Menurut pengertian ini, belajar merupakan proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan. Pengertian ini sangat berbeda dengan pengertian lama tentang belajar, yang menyatakan bahwa belajar adalah memperoleh pengetahuan, bahwa belajar adalah latihan-latihan pembentukan kebiasaan secara otomatis.
Mengkaji lebih dalam berkaitan dengan pembelajaran, maka pengertian pembelajaran itu sendiri menurut Suherman, dkk, (2001 : 9) adalah bahwa :
Proses pembelajaran adalah proses pendidikan dalam lingkup persekolahan, sehingga arti dari proses pembelajaran adalah proses sosialisi individu siswa dengan lingkungan sekolah, seperti guru, sumber/fasilitas, dan teman-teman sesama siswa.
Berdasarkan pengertian di atas dapat penulis simpulkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun.
Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seseorang peserta didik. Pengajaran memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pembelajaran juga menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan peserta didik.
Menganalisis kurikulum merupakan salah satu kegiatan yang perlu dilakukan guru/calon guru, karena kurikulum merupakan acuan pokok yang harus dikaji oleh para guru untuk merencanakan, melaksanakan, dan menindaklanjuti pembelajaran mata pelajaran yang dibinanya. Dengan menganalisis kurikulum, kita akan mendapatkan informasi mengenai tujuan diajarkanya materi pelajaran yang kita ajarkan, kedalaman serta keluasan dari setiap standar kompetensi/kompetensi dasar, dan cara bagaimana kita mengajarkannya. Dengan demikian diharapkan kita dapat melaksanakan kurikulum sesuai dengan harapan. Antara kurikulum dan guru lurus harus merupakan satu kesatuan yang erat kaitannya dalam proses pembelajaran.
Dari uraian diatas dapat peneliti simpulkan keberhasilan proses pembelajaran apabila mampu menguasai kurikulum, dan dapat menerjemahkan serta menjabarkannya kepada siswa dengan model pembelajaran yang cocok agar tujuan pembelajaran dan hasil belajar bisa tercapai dengan baik.
2. Pembelajaran IPA
a. Pengertian IPA
Ilmu Pengetahuan Alam dapat berkembang dengan pesat berkat metode berpikir tertentu yang disebut metode ilmiah. Penting untuk membedakan pengertian konsep, prinsip, teori dan hokum serta kedudukannya dalam IPA. Kesemuanya merupakan produk IPA. Pengajaran IPA harus disajikan sehingga kegiatannya seperti apa yang dilakukan ilmuan. Jadi IPA dipandang sebagai proses. Konsep yang disajikan dalam pengajaran IPA harus di seputar suatu bagan konsep (Wahyana, dkk., 1996:302).
Berkaitan dengan pengertian dari IPA itu sendiri, maka Wahyana, dkk. Mendefinisakan sebagai berikut: “Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan suatu kumpulan pengetahuan tersusun secara sistematik, dan dalam penggunaannya secara umum trebatas pada gejala alam”. Jadi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) secara harfiah dapat disebut sebagai ilmu tentang alam, ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam. Adapun pengertian IPA menurut para ahli adalah sebagai berikut:
1) Suyoso (1998:23) dalam juhji-science-sd.blogspot.com (2008), menyatakan bahwa:
IPA sendiri berasal dari kata sains yang berarti alam. Sains menurut merupakan pengetahuan hasil kegiatan manusia yang bersifat aktif dan dinamis tiada henti-hentinya serta diperoleh melalui metode tertentu yaitu teratur, sistematis, berobjek, bermetode dan berlaku secara universal.
2) Abdullah (1998:18) dalam juhji-science-sd.blogspot.com (2008), menyatakan bahwa:
IPA merupakan “pengetahuan teoritis yang diperoleh atau disusun dengan cara yang khas atau khusus, yaitu dengan melakukan observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori, eksperimentasi, observasi dan demikian seterusnya kait mengkait antara cara yang satu dengan cara yang lain”.

Dari pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa IPA merupakan pengetahuan dari hasil kegiatan manusia yang diperoleh dengan menggunakan langkah-langkah ilmiah yang berupa metode ilmiah dan dididapatkan dari hasil eksperimen atau observasi yang bersifat umum sehingga akan terus di sempurnakan.
b. Maksud dan Tujuan IPA
Maksud pembelajaran IPA memberikan pelajaran tentang alam sekitar adalah menyiapkan anak agar dapat mengikuti pelajaran lebih lanjut. Diantaranya maksud pembelajaran tentang IPA sebagai berikut :
1) Melatih anak menggunakan alat inderanya dalam usaha menambah pengetahuannya dan mengenal keadaan alam sekitarnya
2) Melatih anak agar ia dengan jelas dan tepat dapat menyatakan apa-apa yang dialami dan dipelajarinya, baik dengan cara lisan maupun dengan cara tulisan, dengan gambar, demonstrasi dan sebagainya
3) Memberikan pengetahuan kepada anak mengenai daerah disekitarnya, keadaan alam, masyarakat dan kehidupan sekelilingnya. Dengan demikian kepada anak ditanamkan dasar-dasar untuk pelajaran-pelajaran selanjutnya, yaitu pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam
Mengingat begitu besarnya peranan IPA dalam kehidupan manusia sehari-hari, dalam pembelajaran IPA harus ditunjukkan hubungan antara IPA dengan kehidupan kita, sehingga anak dapat menghayati dan memahami IPA dengan mudah dan mendalam. Selanjutnya tidak boleh dilupakan, bahwa pendidikan IPA sebagai bagian dari pendidikan umum mempunyai tujuan yang tidak dapat dipisahkan dari tujuan pendidikan umum itu sendiri, yaitu membina kepribadian anak didik, baik jasmaniah mupun rohaniah, yang mencakup antara lain pembentukan sikap, keterampilan, kecakapan, dan pengetahuan yang diperlukan sebagi bekal hidupnya. Jadi, dalam pendidikan IPA kita tidak semata-mata memberikan pengetahuan tentang IPA kepada anak, tetapi melaui pendidikan IPA kita ikut membina kepribadian anak.
Pendidikan IPA diharapkan dapat mencakup aspek-aspek berikut ini :
1) Memupuk dan mengembangkan sikap ilmiah
2) Memupuk jiwa dan semangat ilmiah untuk diterapkan dalam menghadapi masalah kehidupan sehari-hari
3) Membina sikap ilmiah dengan membangkitkan minat dan menerapkan metode ilmiah
4) Mengembangkan kreativitas dan kemampuan untuk berpikir dan bertindak secara obyektif rasional, logis, dan kritis
5) Memberi bekal pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan untuk meningkatkan tarap hidup.
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa pendidikan IPA mempunyai fungsi untuk:
1) Melengkapi pendidikan umum
2) Mengadakan latihan ilmiah
3) Mengadakan latihan untuk memperbaiki taraf hidup
4) Mengadakan latihan untuk memperbaiki komunikasi
3. Pembelajaran IPA SD
Ilmu Pengetahuan Alam berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar (Depdiknas, 2006:484).
IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan. Di tingkat SD/MI diharapkan ada penekanan pembelajaran Salingtemas (Sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat) yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana.
Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran IPA di SD/MI menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah (Depdiknas, 2006:484).
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (KD) IPA di SD/MI merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh peserta didik dan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum di setiap satuan pendidikan. Pencapaian SK dan KD didasarkan pada pemberdayaan peserta didik untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru.
1. Tujuan
Pembelajaran IPA mencakup beberapa tujuan diantaranya: memupuk dan mengembangkan sikap ilmiah, memupuk jiwa dan semangat ilmiah untuk diterapkan dalam menghadapi masalah kehidupan sehari-hari, Membina sikap ilmiah dengan membangkitkan minat dan menerapkan metode ilmiah. Lebih lanjut dijelaskan lebih terperinci sebagaimana tertuang dalam permen No. 22 Tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah (2006:485) bahwa tujuan mata pelajaran IPA di SD/MI agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1) Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya
2) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
3) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positip dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat.
4) Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan
5) Meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam
6) Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan
7) Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs.
2. Ruang Lingkup
Ruang Lingkup bahan kajian IPA untuk SD/MI meliputi aspek-aspek berikut.
1) Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan
2) Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi: cair, padat dan gas
3) Energi dan perubahannya meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya dan pesawat sederhana
4) Bumi dan alam semesta meliputi: tanah, bumi, tata surya, dan benda-benda langit lainnya.
(Depdiknas, 2006:485)
Dari uraian diatas dapat peneliti simpulkan bahwa pembelajaran IPA di SD sangatlah penting bagi para siswanya karena IPA harus dipupuk dari pendidikan dasar sehingga akan bermanfaat bagi kehidupan dimasa yang akan datang. IPA tidak hanya hanya mengajarkan kita mempelajari alam tetapi bagaimana alam itu dijaga dan dilestarikan oleh penghuni bumi ini, karena dampak alam akan menyangkut juga kehidupan sosial maka pantaslah pembelajaran IPA sangat pendidikan dasar.
B. Pendekatan Pembelajaran Konstruktivis dalam Proses Pembelajaran
Berangkat dari suatu pandangan baru, bahwa siswa bukan hanya menerima pengetahuan secara pasif dari gurunya (transfer of knowledge) saja, tetapi membina pengetahuannya melalui interaksi dengan lingkungan sekitar. Dalam berinteraksi dengan lingkungannya seseorang dapat dikatakan mengkonstruksi pengetahuan (kognitif) yang dimilikinya apabila ada usaha ke arah perbaikan, hal ini berdasarkan asumsi dari Chaplin (2007:108) bahwa ‘Constructive adalah suatu yang (bersifat membangun, berguna) berkenaan dengan daya pikir atau kritisme yang berusaha untuk memperbaiki atau meningkatkan sesuatu tetapi tidak untuk merusak’. Untuk menunjang kepada pencapaian kearah itu, maka diperlukan adanya suatu pendekatan. Dalam hal ini pendekatan yang sesuai adalah pendekatan pembelajaran konstruktivis. Hal ini didasarkan kepada beberapa tokoh yang telah banyak mengangkat strategi pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran konstruktivis.
Banyak peneliti yang berpendapat bahwa setiap individu membangun pengetahuan dan bukannya hanya menerima pengetahuan dari orang lain. Pendekatan pembelajaran konstruktivis memperlihatkan bahwa pembelajaran merupakan proses aktif dalam membuat sebuah pengalaman menjadi masuk akal, dan proses ini sangat dipengaruhi oleh apa yang sudah diketahui orang sebelumnya. Hal ini sependapat dengan Karli dan Yuliariatiningsih (2003: 4) bahwa:
Pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran adalah suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental membangun pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur kognitif yang telah dimilikinya. Pendidik lebih berperan sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran. Penekanan tentang belajar mengajar lebih berfokus pada suksesnya siswa mengorganisir pengalaman mereka, bukan ketepatan siswa dalam melakukan replikasi atas apa yang dilakukan pendidik.
Dalam setiap kegiatan pembelajaran guru harus memperoleh, atau sampai pada persamaan pemahaman dengan murid. selanjutnya, pembelajaran melibatkan negosiasi (pertukaran pikiran) dan interpretasi. Wacana penyesuaian pikiran ini dapat dilakukan antara murid dengan guru, atau antara sesama murid. Karena interaksi antara sesama murid dan antara murid dengan guru sangat penting maka; “strategi pembelajaran cooperatif (kerjasama) adalah sangat ideal. Jadi, dalam model konstruktivisme harus tercipta hubungan kerjasama antara guru dengan murid dan antara sesama murid” (Mulyasa, 2002:239).
Dalam perspektif lain mengenai konstruktivisme, guru tidak mengajarkan kepada anak bagaimana menyelesaikan persoalan, namun mempresentasikan masalah dan mendorong siswa untuk menemukan cara dalam menyelesaikan masalahan. Piaget (Karim et al., 1996/1997:22) menekankan bahwa:
Proses belajar merupakan suatu proses asimilasi dan akomodasi ke dalam struktur mental. Asimilasi adalah proses terpadunya informasi dan pengalaman baru ke dalam struktur mental. Akomodasi adalah hasil perubahan pikiran sebagai suatu akibat adanya informasi dan pengalaman baru.
Dari beberapa pendapat para ahli yang mengungkapkan konstruktivis dapat peneliti simpulkan bahwa apabila kita belajar maka proses mengkonstruksi (membangun sesuatu dalam pikiran) akan terjadi dalam diri kita sehingga terbentuklah pengetahuan baru hasil dari peristiwa-peristiwa yang dialami menjadi masuk akal bagi diri kita.
Selanjutnya, dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran konstruktivis ditanda dengan kondisi sebagaimana yang dikemukakan oleh Brooks and Brooks (1993) dalam Sutardi, D. dan Sudirjo, E. (2007:126) bahwa: “Siswa membina makna tentang dunia dengan mensintesis pengalaman baru kepada apa yang mereka telah pahami sebelumnya. Mereka membentuk aturan melalui refleksi tentang interaksi mereka dengan obyek dan ide”. Dari pernyataan Brooks&Brooks, salah satu kata kuncinya “penemuan”, dalam bahasa Inggrisnya adalah discovery. Menurut Sund (Suryobroto, 1986:42) bahwa ‘discovery adalah proses mental di mana siswa mengasimilasikan sesuatu konsep atau sesuatu prinsip’. Dalam hal ini, penulis mencoba menggunakan metode penemuan (discovery) untuk mengupayakan proses kegiatan mental melalui tukar pendapat yang berwujud diskusi, baik dalam diskusi kelompok maupun diskusi kelas. Kata penemuan sebagai metode mengajar merupakan “penemuan yang dilakukan oleh siswa” (Suherman et al., 2001:178). Untuk merencanakan pengajaran dengan penemuan hendaknya diperhatikan bahwa:
1. Aktivitas siswa untuk belajar sendiri sangat berpengaruh.
2. Hasil (bentuk) akhir harus ditemukan sendiri oleh siswa.
3. Prasyarat-prasyarat yang diperlukan sudah dimiliki siswa.
4. Guru hanya bertindak sebagai pengarah dan pembimbing saja, bukan pemberitahu. (Suherman et al., 2001:179)
Uraian di atas menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode penemuan, diperlukan suatu cara yang mengarah kepada kegiatan yang lebih menitikberatkan kepada aktivitas siswa baik secara fisik, mental maupun sosial. Kegiatan-kegiatan tersebut diperlukan untuk memahami konsep-konsep IPA yang dapat mengembangkan daya nalar siswa. Sebagaimana yang telah dikemukakan, hal ini menunjukkan belajar IPA bukanlah suatu proses “pengepakan” pengetahuan secara hati-hati, melainkan hal mengorganisir aktivitas dimana kegiatan ini diinterpretasikan secara luas termasuk aktivitas dan berpikir konseptual’.
Berkaitan dengan konsep, Chaplin (2006:101) mengemukakan bahwa; “konsep (concept) merupakan satu ide yang mengkombinasikan beberapa unsur dari sumber-sumber yang berbeda ke dalam satu gagasan tunggal”. Pendapat ini diperkuat oleh Rosser (Dahar, 1996:80); ‘konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili satu kelas objek-objek, kejadian-kejadian, atau hubungan-hubungan yang mempunyai atribut sama’. Sebelum mengajarkan konsep guru harus benar-benar yakin bahwa; “siswa telah memiliki pengetahuan prasyarat dengan materi yang akan diajarkan. Selain itu penggunaan bahasa guru yang sesuai dengan anak merupakan pertimbangan penting dalam mengajar konsep” (Dahar, 1996:90).
Pada pembelajaran dengan menggunakan metode penemuan siswa didorong untuk memahami sesuatu. Belajar pun akan lebih bermakna dan tahan lama dalam ingatan siswa apabila mereka menemukan sendiri konsep yang sedang dipelajari, sebagaimana Bruner (Dahar, 1996:103) mengemukakan bahwa:
Pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan menunjukkan beberapa kebaikan. Pertama, pengetahuan itu bertahan lama atau lama diingat atau lebih mudah diingat bila dibandingkan dengan pengetahuan yang dipelajari dengan cara-cara lain. Kedua, hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik daripada hasil prinsip-prinsip yang dijadikan kognitif seseorang lebih mudah diterapkan pada situasi-situasi baru. Ketiga, secara menyeluruh belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir secara bebas. Secara khusus belajar penemuan melatih keterampilan-keterampilan siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.
Apabila pembelajaran memberikan penekanan pada aktivitas siswa untuk belajar melalui pengalaman sendiri diharapkan pemahaman konsep-konsep IPA akan meningkat. Pemahaman itu sendiri menurut Gordon (Mulyasa, 2002:39) adalah; ‘kedalaman kognitif dan afektif yang dimiliki oleh individu’. Selanjutnya Cobb dkk. (Suherman et al., 2001:72) merekomendasikan konstruktivis untuk menyediakan lingkungan belajar di mana siswa dapat mencapai suatu konsep; ‘belajar dipandang sebagai proses aktif dan konstruktif di mana siswa mencoba untuk menyelesaikan masalah yang muncul sebagaimana mereka berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran IPA di kelas’.
Hal berikutnya dalam pendekatan konstruktivis ini adalah pertanyaan tentang apakah pengetahuan yang dibentuk itu bersifat internal, umum dan dapat ditransfer atau terikat dalam ruang dan waktu pada saat dibentuk. Apa yang dijelaskan oleh Vigotsky bahwa belajar tergantung konteks sosial dan berada dalam lingkup budaya tertentu memang tepat. Namun apa yang disebut benar dalam waktu dan tempat tertentu bisa menjadi salah di tempat dan waktu yang lain, seperti anggapan bahwa bumi itu datar sebelum Colombus. Ide-ide tertentu berguna pada komunitas tertentu, namun tidak bermanfaat apa-apa di komunitas lain. Apa yang disebut pengetahuan baru ditentukan sebagiannya dengan bagaimana ide baru tersebut sesuai dengan praktek yang berlaku pada saat tersebut. Sepanjang waktu, praktek yang ada dipertanyakan dan bisa diganti, namun sebelum itu terjadi praktek yang ada terus dilakukan karena dinilai tetap menguntungkan.
Selain itu belajar juga terkondisikan berdasar tempat berlangsungnya kegiatan, biasa yang disebut enkulturasi atau proses mengadopsi norma-norma, perilaku, keahlian, kepercayaan, bahasa, sikap dari satu komunitas tertentu. Jadinya pengetahuan tidak hanya dilihat sebagai struktur kognitif individu saja tetapi sebagai buatan dari komunitas sepanjang waktu. Apa yang dilakukan oleh komunitas, cara bagaimana mereka berinteraksi dan menyelesaikan suatu hal, seperti halnya alat yang dibuat oleh komunitas, membentuk pengetahuan dari komunitas tersebut. Belajar artinya menjadi lebih mampu untuk berpartisipasi dalam kegiatan dan pemakaian alat dan mendapat bagian identitas sebagai anggota komunitas.
Selain itu, dalam mengelola aktivitas belajar sangat diperlukan ketika proses pembelajaran berlangsung. Keaktifan siswa akan nampak dalam proses belajar dalam bentuk performansi, sebagaimana yang dikemukakan oleh Gagne dan Briggs (Nasution, 1995:88) dalam tipe keterampilan intelektual, yaitu salah satu komponennya adalah; ‘performansi (penampilan/kinerja) yang diperoleh atau harus diperoleh, yakni apa yang seyogianya dapat dilakukan oleh pelajar setelah ia melakukan proses belajar’. Keaktifan siswa tidak akan terlepas dari minat siswa itu sendiri, hal ini senada dengan pernyataan yang diungkapkan William James (Usman, 1995:27), bahwa; ‘minat siswa merupakan faktor utama yang menentukan derajat keaktifan siswa’. Oleh karena itu setiap siswa akan berminat terhadap belajar, apabila guru berusaha membangkitkan minat tersebut melalui pemberian kesempatan kepada siswa untuk lebih aktif.
Apabila kegiatan pembelajaran ada unsur mengaktifkan siswa, maka aktivitas siswa akan meningkat. Hal ini senada dengan pernyataan William Burton (Usman, 1995:21), yaitu; ‘teching is the guidance of learning activities, teaching is for purpose of aiding the pupil learn’. Maksud dari pernyataan tersebut adalah pengajaran adalah membimbing aktivitas-aktivitas belajar, mengajar adalah adanya kesengajaan untuk menolong atau membantu murid belajar. Dengan demikian, aktivitas siswa sangat diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga merekalah yang seharusnya banyak aktif, karena siswa sebagai subjek didik adalah yang merencanakan dan melaksanakan belajar tersebut.
Dalam pelaksanaan pembelajaran banyak hal yang harus dicapai oleh siswa sebagai hasil belajar yaitu pengetahuan dan pengalaman tentang konsep, kemampuan dalam menerapkan konsep, kemampuan menarik kesimpulan, menyenangi dan merespon positif pelajaran IPA. Akan tetapi perlu diingat bahwa masing-masing individu memiliki kecepatan yang berbeda-beda dalam memahami materi pembelajaran. Board of Studies (Suherman, et al., 2001:74) menyatakan bahwa; ‘siswa akan mencapai prestasi belajar dalam kecepatan yang berbeda dan secara kualitatif dalam cara-cara yang berbeda-beda’.
Prestasi belajar merupakan hasil belajar siswa setelah melalui proses pembelajaran. “Keberhasilan seseorang dalam suatu proses belajar mengajar atau untuk menentukan keberhasilan suatu program pendidikan” (Nasution, 1995: 167). Evaluasi dalam pembelajaran dilaksanakan oleh guru dalam proses dan hasil pembelajaran. Guru memantau komunikasi siswa, aktivitas individu dan kelompok dalam proses pembelajaran.
Mengimplikasikan pendekatan pembelajaran konstruktivisme dalam rangka meningkatkan pemahaman, aktivitas, dan hasil belajar, dikemukakan oleh Karli dan Yuliariatiningsih (2003:5) yang meliputi 4 tahapan yaitu; “1) tahap apersepsi/mengungkapkan konsepsi awal; 2) tahap eksplorasi; 3) tahap diskusi dan penjelasan konsep; dan 4) tahap pengembangan dan aplikasi konsep”.
Lebih lanjut dari keempat tahapan seperti yang dikemukakan oleh Karli dan Yuliariatiningsih tersebut di atas, maka dapat diperinci melalui tahapan kegiatan pembelajaran sebagai berikut:
Tahap pertama, mengaitkan pengetahuan awal siswa dengan mengajukan pertanyaan. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan problematik yang sering ditemui sehari-hari yang berkaitan dengan konsep yang akan dipelajari.
Tahap kedua, siswa diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep melalui pengumpulan, pengorganisasian, dan penginterpretasian data dalam suatu kegiatan yang dirancang oleh guru. Pada pelaksanaannya siswa berkelompok untuk berdiskusi, baik dalam diskusi kelompok itu sendiri maupun antarkelompok memecahkan masalah yang disajikan oleh guru. Secara keseluruhan tahap ini akan memenuhi rasa keingintahuan siswa.
Tahap ketiga, perankan siswa secara aktif dalam menginterpretasikan dan memahami konsep yang baru dalam diskusi kelas, pada saat siswa memberikan penjelasan dan solusi yang didasarkan pada hasil observasinya ditambah dengan penguatan guru maka siswa membangun pemahaman baru tentang konsep yang dipelajari.
Tahap keempat, doronglah siswa untuk mengaplikasikan konsep yang dipelajarinya dalam berbagai aspek kegiatan/kehidupan sehari-hari di lingkungannya guru menciptakan iklim pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat mengaplikasikan pemahaman konseptual, melalui kegiatan atau pemunculan dan pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan lingkungan.
Dalam pelaksanaan pembelajarannya keempat tahapan dari pendekatan konstruktivisme yang dikemukakan oleh Karli & Yuliariatiningsih dilakukan dengan menggunakan metode discovery dalam kerja kelompok. Alasannya sebagaimana yang dijelaskan oleh Undang, Komara, dan Suhendar (1996:20) mengenai salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam kerja kelompok, yaitu; “interaksi/komunikasi yang efektif. Komunikasi yang efektif dapat berlangsung jika terjalin interaksi antaranggota kelompok”. Penggunaan kerja kelompok dalam belajar mengajar menurut Undang, Komara, dan Suhendar (1996:21) adalah; “bertujuan agar para peserta didik mampu bekerja sama dengan teman yang lain dalam mencapai tujuan bersama”.
8) Pembelajaran Konsep Sifat dan Perubahan Wujud Benda dengan Pendekatan Pembelajaran Konstruktivis
Materi pembelajaran sifat dan perubahan wujud benda di kelas IV Sekolah Dasar merupakan bagian dari ruang lingkup benda dan sifatnya dalam kurikulum IPA SD (KTSP, 2006: 493). Berdasarkan hal tersebut, maka pembelajaran sifat dan perubahan wujud benda di kelas IV direncanakan sesuai dengan tuntutan pembelajaran IPA di SD yaitu pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi, meningkatkan keefektifan pembelajaran, dan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi.
Dalam keefektifan pembelajaran akan dapat berjalan dengan baik apabila pendukung utamanya yaitu guru mempunyai kualifikasi atau guru efektif, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ruseffendi (1991:39); “guru efektif adalah guru yang mengajarnya berhasil; tujuan pengajarannya berhasil”. Selanjutnya keefektifan guru dapat dilihat sebagai berikut;
1. sifat-sifat guru sebagai bawaan, seperti; emosional, disiplin, memiliki daya tarik, dan lain-lain;
2. menerapkan metode mengajar dengan tepat;
3. berusaha membuat suasana kelas sehingga mendorong guru itu sendiri bisa mengajar lebih efektif; dan
4. memiliki kompetensi dan mampu mempergunakannya pada topik dan saat yang tepat. (Ruseffendi, 1991:39-40)
Dalam pembelajaran konsep sifat dan perubahan wujud benda dengan menggunakan pendekatan konstruktivis dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Tahap Apersepsi
Pada tahap ini, siswa diberi kesempatan untuk mengungkapkan pengetahuan awalnya, mengembangkan pengetahuan baru, serta menjelaskan fenomena yang mereka alami sesuai dengan konsep yang akan dipelajari yaitu pembelajaran sifat dan perubahan wujud benda. Siswa mengemukakan pengalaman konkretnya misalnya, es mencair atau membeku, air menguap bila dipanaskan, air mengembun, dan lain-lain.
2. Tahap Eksplorasi
Dalam tahap eksplorasi, hubungkan antara pengetahuan awal siswa dengan materi yang baru dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk menyelidiki dan menemukan konsep melalui pengumpulan, pengorganisasian, dan penginterpretasian data dalam suatu kegiatan yang dirancang oleh guru. Di sini, peran guru sedikit lebih dominan dimana guru membantu siswa dalam mengidentifikasi konsep dari pengalaman siswa. Untuk menemukan sendiri konsep yang dipelajarinya maka dipandu dengan Lembar Kerja Siswa. Menurut Augustine dan Smith (Priatna, 2004:46); ‘aktivitas siswa dengan bimbingan guru selama proses pembelajaran berpandukan LKS membantu pemahaman siswa secara konseptual maupun prosedural’. Strategi pembelajaran yang digunakan adalah bertanya, diskusi kelompok, negosiasi, dan penggunaan media yang dirancang untuk memperteguh pemahaman siswa dan juga untuk guru itu sendiri. Dalam kerja kelompok dengan menggunakan metode discovery, dibentuk kelompok dengan anggota antara 4-5 orang, sebagaimana pendapat Lie (2005:47) bahwa, “jumlah anggota dalam satu kelompok bervariasi mulai dari 2 sampai 5, menurut kesukaan guru dan kepentingan tugas”. Anggota kelompok dibuat secara heterogen berdasarkan beberapa alasan. Menurut Lie (2005:45), yaitu:
1) Kelompok heterogen memberikan kesempatan untuk saling mengajar (peer tutoring) dan saling mendukung;
2) Kelompok ini meningkatkan relasi dan interaksi antar ras, agama, etnik, dan gender; dan
3) Kelompok heterogen memudahkan pengelolaan kelas karena dengan adanya satu orang yang berkemampuan akademis tinggi, guru mendapatkan satu asisten untuk setiap tiga orang.
3. Tahap Diskusi dan Penjelasan Konsep
Pada tahap ini, perankan siswa secara aktif dalam menginterpretasikan dan memahami konsep yang baru dalam diskusi kelas, pada saat siswa memberikan penjelasan dan solusi yang didasarkan pada hasil observasinya ditambah dengan penguatan guru maka siswa membangun pemahaman baru tentang konsep yang dipelajari. Pada bagian ini guru membimbing siswa untuk dapat membentuk suatu konsep tentang sifat dan perubahan wujud benda dan membantu pemahaman dan pengkomunikasian pengalaman kongkrit siswa.
4. Tahap Pengembangan dan Aplikasi Konsep
Guru membantu siswa untuk dapat menginterpretasikan dan menggenaralisasikan hasil dari pengalaman konkretnya dan hasil analisis bersama guru. Pada tahap ini siswa mencoba memecahkan masalah-masalah baru yang masih berhubungan dengan sifat dan perubahan wujud benda. Siswa juga dicoba untuk memperlakukan benda-benda (manipulatif material) misalnya melakukan percobaan atau mendemonstrasikan.
Pembelajaran IPA sangat ditunjang oleh cara proses pembelajarannya karena sangat penting sekali bagi para siswa dengan adanya model pembelajaran yang tepat maka hasil belajar siswa akan sangatlah baik. Semua belajar tergantung pada pengalaman, baik pengalaman langsung maupun tidak langsung, disinilah pembelajaran konstruktivis sangat cocok digunakan sebagai model belajar IPA.
Dalam pembelajaran IPA khususnya pembelajaran konsep sifat dan perubahan wujud benda, siswa akan belajar melalui pendekatan pembelajaran konstruktivis. Diantaranya dengan menggali materi, menemukan permasalahan, berdiskusi kelompok, memperagakan model secara langsung dalam konsep sifat dan perubahan wujud benda.
Berikut beberapa perubahan bentuk benda padat, cair dan gas sebagai bagian dari materi pembelajaran konsep sifat dan perubahan wujud benda.
Materi sifat dan perubahan wujud benda menitik beratkan memahami beragam sifat dan perubahan wujud benda serta berbagai cara penggunaan benda berdasarkan sifatnya. Di bawah ini contoh gambar skema perubahan wujud benda sebagai sumber belajar:
Berdasarkan wujudnya, benda dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu benda padat, benda cair, dan gas. Benda-benda tersebut mengalami perubahan wujud. Perubahan wujud yang dipelajari disini adalah perubahan wujud yang dapat kembali. Beberapa peristiwa perubahan wujud benda, antara lain, mencair (melebur), membeku, menguap, mengembun, dan menyublim.
Benda-benda dapat berubah wujud. Benda padat dapat berubah wujud menjadi benda cair ataupun gas. Demikian juga sebaliknya. Perubahan wujud ini menyebabkan perubahan sifat-sifat benda. Perubahan sifat benda meliputi bentuk, warna, kelenturan, kekerasan, dan baunya. Bagaimana benda dapat mengalami perubahan? Peristiwa apa sajakah yang dapat menyebabkan benda berubah sifat?
1) Berbagai Penyebab Perubahan Sifat Benda
Benda dapat berubah sifat apabila ada perlakuan atau peristiwa yang mengenainya. Benda dapat mengalami perubahan wujud jika mendapat perlakuan berikut ini.
a) Pemanasan
Apabila kita memanaskan lilin, maka pemanasan lilin berbeda dengan pembakaran lilin. Pemanasan lilin tidak terjadi secara langsung. Lilin ditempatkan pada sebuah wadah. Selanjutnya wadah dipanaskan. Batang lilin yang semula berbentuk padat akan mencair karena meleleh. Selanjutnya, cairan dari batang lilin akan berubah bentuk menjadi padat lagi setelah dingin.
b) Pembakaran
Apabila kita berkemah, biasanya kita membuat api unggun pada malam hari. Api unggun dibuat dengan mengumpulkan kayu-kayu, kemudian dibakar. Akibat peristiwa pembakaran ini, kayu yang semula bersifat padat dan keras berubah bentuk menjadi arang dan abu. Arang mempunyai sifat rapuh, sementara abu berbentuk serbuk. Pembakaran dapat mengubah sifat benda.
c) Pencampuran dengan Air
Para pekerja bangunan menggunakan berbagai macam bahan bangunan yang dicampur dengan air. Misalnya semen, pasir, dan kapur. Semen berbentuk serbuk. Setelah dicampur dengan air, semen berubah menjadi agak lengket. Jika sudah kering, campuran ini akan berubah menjadi keras dan kuat.
d) Pembusukan
Buah pisang yang telah matang akan membusuk bila dibiarkan selama beberapa hari. Proses pembusukan ini akan mengubah sifatsifat buah tersebut. Perubahan yang terjadi meliputi kekerasan, bau, dan warnanya. Buah pisang yang busuk baunya tidak sedap. Kulit buah yang semula berwarna kuning akan berubah menjadi cokelat kehitaman. Apabila dipegang, daging buahnya terasa lunak.
2) Macam-Macam Perubahan Sifat Benda
Pada dasarnya perubahan sifat benda dapat dibedakan menjadi dua. Sifat perubahan tersebut yaitu perubahan yang bersifat sementara dan perubahan yang bersifat tetap. Apa perbedaan keduanya?
a) Perubahan Sifat Benda yang Bersifat Sementara
Perubahan bersifat sementara adalah perubahan benda yang dapat kembali ke wujud semula dan tidak menghasilkan zat baru. Perubahan bersifat sementara disebut juga perubahan fisika. Contoh perubahan yang bersifat sementara yaitu perubahan wujud air menjadi es. Air berwujud cair, dapat berubah menjadi es yang berwujud padat. Perubahan wujud benda dari cair menjadi padat disebut membeku. Es dapat berubah wujud menjadi air kembali jika dipanaskan. Perubahan wujud ini disebut mencair. Perubahan sifat pada benda tersebut bersifat sementara, karena benda dapat kembali ke wujud semula.
b) Perubahan Sifat Benda yang Bersifat Tetap
Perubahan bersifat tetap adalah perubahan benda yang tidak dapat kembali ke wujud semula. Perubahan ini menghasilkan zat baru. Perubahan bersifat tetap disebut juga perubahan kimia. Contoh perubahan yang bersifat tetap, yaitu perubahan wujud kertas yang dibakar menjadi abu. Perubahan-perubahan benda ini selalu terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah (1998) dalam L:\httpjuhji-science-sd.blogspot.com200807pengertian-pendidikan-ipa-dan.html.html.
Chaplin, J.P. (2006). Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Dahar, R( 1996) Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga.
Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Ekojaya.
Depdiknas. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.
Hamalik. (2001). Teknik Pengukuran dan Evaluasi Pendidikan. Pustaka Martiana : Bandung.
Hermawan, R., Mujono, dan Suherman, A. (2007). Metode Penelitian Pendidikan Sekolah Dasar. Bandung: UPI PRESS.
Karim M.A, et al.. (1996/1997). Pendidikan Matematika I. Jakarta. Depdikbud.
Karli, H., dan Yuliariatiningsih, S.M. (2003). Implementasi KBK (edisi2). Bandung: Bina Media Informasi.
Karmillah. (2005). ”Penyuluhan interaktif tentang Implementasi Teori Belajar Konstruktivisme dalam Model Mengajar Inkuiri dalam Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar”. Jurnal Pendidikan Dasar. 2,(4), 40-4.
Lie, A. (2005). Cooperative Learning. Jakarta: Grasindo.
Mulyasa, E. (2002). Kurikulum Berbasis Kompetensi konsep, karakteristik, dan implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nasution, N. et al. (1995). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka.
Priatna, D. (2004). Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) dalam Pembelajaran Pecahan di Kelas IV Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Dasar Volume I, no 1 Mei 2004. Bandung: UPI.
Ruseffendi, E.T. (1991). Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.
Suherman, E. dkk. (2001). Strategi Pembelajaran matematika. Bandung: JICA-UPI.
Surya, M. (2004). Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
Suryobroto, B. (1986). Mengenal Metode Pengajaran Di Sekolah dan Pendekatan Baru dalam Proses Belajar-Mengajar. Yogyakarta: Amarta.
Sutardi, D dan Sudirjo, E. (2007). Pembaharuan dalam PBM di SD. Bandung: UPI PRESS.
Suyoso. (1998) dalam L:\httpjuhji-science-sd.blogspot.com200807pengertian-pendidikan-ipa-dan.html.html.
Undang, G., Komara, C., dan Suhendar D. (1996). Peningkatan Mutu Proses Belajar Mengajar Sekolah Dasar. Bandung: Siger Tengah.
Usman, U. (1995). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Wahyana, dkk. (1996). Pendidikan IPA 4. Jakarta: Universitas Terbuka.
Wardani . I. GAK., Wihardi, K., dan Nasution, N. (2002). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Universitas Terbuka
Yuliariatiningsih, M, S., dan Irianto, D, M.(2008). Pendidikan IPA di Sekolah dasar/ Buku Materi Pokok PGSD. Bandung: tidak diterbitkan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar